POLA KOMUNIKASI KELUARGA TERHADAP KESEHATAN MENTAL REMAJA

Oleh: Qomariyah Slamet – Psikologi

Bangkalan,Liputan Hukum Indonesia.–

Keluarga sebagai institusi pendidikan paling dini dan sentral seharusnya menjadi instrumen penting dalam mengawal dan mengontrol tumbuh kembang anak. Orang tua dituntut sensitif terhadap fungsi lembaga keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak, khususnya dalam penerapan fungsi komunikasi keluarga.

Komunikasi yang sehat menjadi jembatan untuk berbagi informasi yang baik dan berkualitas antar anggota keluarga, terutama antara orang tua dan anak. Pola komunikasi yang efektif akan mendorong terciptanya pola asuh yang positif. Keberhasilan orang tua dalam mendidik remaja sangat bergantung pada komunikasi yang dilandasi kasih sayang dan cinta.

Komunikasi Efektif dalam Keluarga

Model komunikasi yang efektif tidak hanya sekadar berbicara, tetapi juga mencakup:

Waktu personal yang diberikan kepada anak,

Keahlian mendengar secara aktif,

Keterbukaan dalam mengekspresikan emosi.

Remaja membutuhkan ruang aman untuk membicarakan kondisi mental dan emosinya. Ketika orang tua menyediakan waktu berkualitas dan mendengarkan tanpa menghakimi, remaja akan merasa dihargai. Komunikasi yang demikian mencerminkan keterlibatan emosional yang tinggi dan memberikan perlindungan terhadap risiko gangguan mental.

Komunikasi yang intensif antara orang tua dan anak berkontribusi besar terhadap terciptanya hubungan psikologis yang sehat. Keluarga memiliki peran utama dalam membentuk perilaku remaja karena sejak kecil anak tumbuh dalam lingkungan keluarga. Namun, dewasa ini banyak orang tua kurang memperhatikan perkembangan anak akibat kesibukan atau berbagai aktivitas lain. Pergaulan remaja yang semakin luas juga menjadi faktor yang menyebabkan komunikasi keluarga semakin longgar.

Hambatan dalam Komunikasi Keluarga dengan Remaja

Beberapa faktor yang sering menjadi kendala, antara lain:

1. Kesibukan Orang Tua
Waktu komunikasi menjadi sedikit dan interaksi yang terjadi cenderung dangkal serta terbatas pada hal-hal formal.

2. Konflik Internal Keluarga
Suasana yang tidak kondusif mengurangi kesempatan berdialog secara terbuka dan hangat.

3. Perbedaan Perspektif Antar Generasi
Perbedaan cara pandang antara orang tua dan remaja memperlebar jarak emosional, terlebih jika orang tua memaksakan kehendak tanpa memahami sudut pandang anak.

4. Karakter Remaja yang Tertutup
Remaja yang kurang percaya diri, malu, atau merasa gengsi sering kali enggan berbicara kepada orang tua.

5. Pendekatan Orang Tua yang Tidak Tepat
Sikap terlalu keras, minim empati, atau mudah menghakimi membuat remaja takut membuka diri. Akibatnya, mereka lebih memilih mencari dukungan di luar keluarga.

 

Penutup

Pola komunikasi keluarga yang hangat, terbuka, dan penuh empati merupakan fondasi penting bagi kesehatan mental remaja. Oleh karena itu, orang tua perlu meningkatkan kualitas interaksi, memberikan ruang aman bagi anak, serta mengembangkan kemampuan mendengar dan memahami. Dengan komunikasi yang sehat, keluarga dapat menjadi tempat terbaik bagi remaja untuk bertumbuh dan berkembang.

Jumat, 21 November 2025
Buya Dr. Mohamad Djasuli
Pengasuh PPM Tebu Falah Telang Kamal

Leave a Comment