“MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA (UTM) PERKENALKAN PERTANIAN CERDAS HIDROPONIK SEBAGAI SOLUSI ATAS KETERBATASAN LAHAN DI KELURAHAN MLAJAH”

Bangkalan,Liputan Hukum Indonesia.–

28 November 2025, Semakin padatnya permukiman di Kelurahan Mlajah mendorong mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk menghadirkan solusi praktis bagi masyarakat. Melalui Program Intervensi Komunitas, mereka menginisiasi Pelatihan Hidroponik sebagai upaya mendukung kemandirian pangan keluarga di tengah minimnya ruang tanam.

Program ini melibatkan ibu-ibu PKK, perangkat kelurahan, serta tokoh masyarakat setempat. Pelatihan disusun untuk menjawab tantangan yang selama ini dihadapi warga Mlajah, khususnya ketiadaan lahan pekarangan yang memadai untuk menanam sayuran bagi kebutuhan rumah tangga.

Lurah Mlajah, Moh. Muslih, S.E., menyampaikan bahwa kelurahan memang menghadapi kendala lahan yang semakin terbatas.
“Lahan di Mlajah memang semakin terbatas. Pelatihan seperti ini membuka peluang bagi warga untuk tetap produktif meski tanpa pekarangan luas,” ujarnya dalam sambutan pembukaan kegiatan.

Sebagai bentuk solusi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat, mahasiswa menghadirkan Mohammad Hairus Sholeh, S.P., penyuluh dari Dinas Pertanian, yang memiliki pengalaman dalam budidaya hidroponik.

Materi pelatihan mencakup pengenalan dasar hidroponik, jenis tanaman yang cocok, media tanam yang bisa dibuat dari bahan sederhana, hingga cara merawat tanaman agar tumbuh optimal. Pemateri juga menunjukkan contoh instalasi hidroponik yang mudah dirakit menggunakan barang-barang bekas.

Kegiatan berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mencoba langsung praktik menyemai bibit, menyiapkan media tanam, dan memahami alur perawatan tanaman. Ibu-ibu peserta aktif bertanya mengenai nutrisi yang diperlukan, frekuensi penyiraman, hingga tips agar hasil panen lebih cepat.

Mahasiswa turut mendampingi peserta dalam setiap tahap praktik, memastikan setiap ibu-ibu memahami prosesnya dan dapat melakukannya secara mandiri di rumah masing-masing. Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal agar warga mampu memanfaatkan ruang sempit menjadi tempat bercocok tanam produktif.

Program ini mendapatkan sambutan positif dari para peserta. Mereka merasa terbantu dengan adanya keterampilan baru yang tidak hanya mendukung kebutuhan pangan, tetapi juga memberikan aktivitas positif bagi keluarga. Warga berharap kegiatan semacam ini dapat berlanjut dan diperluas agar semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.

Kegiatan diakhiri dengan foto bersama serta pembagian bibit sayuran kepada peserta sebagai bahan praktik lanjutan di rumah.
Melalui program ini, mahasiswa Psikologi UTM berharap pelatihan hidroponik dapat tumbuh menjadi budaya bercocok tanam sederhana yang berkelanjutan, sekaligus menjadi contoh kontribusi nyata mahasiswa dalam menghadirkan solusi bermanfaat bagi masyarakat Pungkasnya.

(Malik)

Leave a Comment