Bangkalan -Liputan Hukum Indonesia
Rokat Tase’ adalah tradisi adat nelayan pesisir Madura sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil laut dan memohon keselamatan serta rezeki yang melimpah saat melaut,
Namun kali ini warga kelampis barat mengadakan Dengan sederhana namun penuh hikmat,hotmil Qur an dan bersholawat nabi.yang di hadiri para pemangku adat pada tokoh agama juga masyarakat.
Haji Kamil sebagai sesepuh desa yang mewakili kepala desa kelampis barat Hj Ulfatin Annisah menjelas bahwa perayaan rokat tase’ yang sebelum nya sudah di laksanakan di bulan November kemaren,Namun ini adalah kedua kalinya di adakan dengan kesederhanaan, sekaligus ini sebuah permohonan keselamatan terhadap tuhan yang maha Esa.
Dengan Hotmil Qur an dan sholawatan bersama warga Klampis barat yang mayoritas Nelayan mengingin kan keselamatan dari berbagai musibah seperti Air laut meluap, angin puting beliung dan banjir,karna di pinggir pesisir di anggap rawan bencana alam.
Tujuan Utama nya Mengucapkan terima kasih atas rezeki (ikan) yang diberikan Allah SWT. dan Memohon perlindungan dari musibah dan bahaya di laut.
juga Berharap tangkapan ikan melimpah dan keberkahan.
Ratusan warga memadati bibir pantai untuk mengikuti upacara hotmil Quran dan bersholawat nabi,bentuk suatu adat tahunan yang menjadi bagian penting dari budaya maritim masyarakat kelampis barat kamis malam (18/12/2025).
Rokat Tase’ atau merupakan ritual tolak bala sekaligus ungkapan syukur masyarakat atau nelayan Klampis barat kepada Allah SWT atas rezeki dan keselamatan selama ini.
Tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun ini tetap lestari hingga kini dan menjadi salah satu warisan budaya Bagi warga pesisir terutama masyarakat kelampis barat Bangkalan Madura.
Sejarah Rokat Tasek
Menurut penuturan H Kamil sesepuh kelampis barat , tradisi Rokat Tase’ sudah ada sejak zaman nenek moyang “Kami sudah melakukan ini. Bahkan konon katanya, tradisi ini sudah ada sejak zaman Syeh Mohammad Bin Abdul Latif yang di kenal Mohammad Kholil albangkalani.”ungkap H Kamil
Tradisi ini awalnya dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada laut yang telah memberikan rezeki. Seiring masuknya Islam ke Madura, tradisi ini kemudian diselaraskan dengan ajaran Islam, sehingga menjadi bentuk sedekah dan syukur kepada Allah SWT.
“Dulu mungkin ada unsur-unsur animisme, tapi sekarang sudah bersih. Ini murni ibadah kepada Allah, sedekah kepada sesama, dan menjaga tradisi nenek moyang yang baik,” tutup nya
(Aguslim)