Gaya Mahasiswa, Budget Pas-Pasan

 

Oleh _Mia Febrianti

Surabaya,- liputan hukum Indonesia, – Menjadi mahasiswa itu seru. Lingkungan baru, teman baru, tren baru. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang sering jadi dilema: gaya hidup ingin mengikuti tren, sementara kondisi keuangan terbatas.

Tidak sedikit mahasiswa yang ingin tampil keren, nongkrong di tempat hits, beli outfit kekinian, atau ikut tren yang sedang viral di media sosial. Sebenarnya itu hal yang wajar. Dalam ilmu perilaku konsumen, hal ini disebut sebagai social influence, yaitu dorongan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan agar merasa diterima secara sosial.

Masalahnya muncul ketika keinginan lebih besar daripada kemampuan finansial. Uang saku yang seharusnya cukup untuk kebutuhan pokok,makanan, transportasi, dan tugas kuliah,justru habis untuk memenuhi gaya hidup. Dalam konsep ekonomi,ini berkaitan dengan perbedaan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Kebutuhan bersifat mendesak dan penting, sedangkan keinginan lebih pada pemuas kepuasan pribadi.

Secara psikologis, ada juga istilah fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari tren atau pergaulan. FOMO sering membuat seseorang mengambil keputusan konsumtif tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Akibatnya, muncul kebiasaan boros, bahkan sampai berutang demi terlihat “baik-baik saja”.

Padahal, menjadi mahasiswa bukan tentang siapa yang paling update, tapi siapa yang paling siap menghadapi masa depan. Mengatur keuangan sejak kuliah adalah bentuk investasi diri. Membuat skala prioritas, mencatat pengeluaran, dan belajar menahan diri adalah langkah kecil yang berdampak besar.

Tampil sederhana bukan berarti tidak keren. Justru, mahasiswa yang mampu mengelola keuangannya dengan bijak menunjukkan kedewasaan dan kecerdasan finansial. Karena pada akhirnya, gaya boleh saja mengikuti tren, tapi logika keuangan tetap harus jalan.

Leave a Comment