Blitar srengat,Liputan Hukum Indonesia.–
Pesantren sejak dahulu tidak hanya menjadi pusat pendidikan ilmu agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter, kemandirian, dan tanggung jawab hidup. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, santri perlu dibekali bukan hanya dengan ilmu syariat, tetapi juga kemampuan mengelola keuangan secara bijak dan sesuai tuntunan Islam. Inilah yang melahirkan pentingnya literasi keuangan bagi anak pesantren.
Literasi keuangan adalah kemampuan memahami, mengelola, dan menggunakan harta dengan cara yang benar, aman, dan bermanfaat. Bagi santri, pengelolaan keuangan bukan sekadar urusan duniawi, tetapi bagian dari ibadah dan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
(QS. Al-Isrā’: 26–27)
Artinya:
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Ayat ini menegaskan bahwa mengatur keuangan secara bijak adalah bagian dari ketaatan seorang muslim.
Di lingkungan pesantren, literasi keuangan dapat dimulai dari hal paling sederhana, yaitu pengelolaan uang saku santri. Santri dibiasakan membagi uangnya ke dalam tiga pos utama: kebutuhan, tabungan, dan sedekah. Pembiasaan ini melatih santri untuk tidak konsumtif, sekaligus menanamkan kepedulian sosial.
Pesantren juga dapat mengembangkan program edukatif seperti bank mini santri, koperasi santri, kantin kejujuran, serta kelas kewirausahaan santri. Program-program ini tidak hanya mengajarkan keterampilan usaha, tetapi juga membentuk karakter jujur, amanah, dan bertanggung jawab.
Melalui literasi keuangan, santri dipersiapkan menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengelola rezeki dengan bijak, serta siap menghadapi kehidupan setelah lulus dari pesantren. Santri tidak hanya pandai dalam ilmu agama, tetapi juga cakap dalam urusan ekonomi yang halal dan berkah.
Literasi keuangan anak pesantren pada akhirnya bukan hanya tentang uang, tetapi tentang membangun generasi santri yang cerdas, berakhlak, dan siap menjadi penggerak kebaikan di tengah umat.
Ridha H.