Penulis: Zakia Ainilhawa
Bangkalan,Jurnal Hukum Indonesia.–
Setiap orang mendambakan masa depan yang cerah: kehidupan yang lebih mapan, sehat, bahagia, dan penuh arti. Namun, tidak semua menyadari bahwa masa depan itu tidak muncul secara tiba-tiba. Ia dibangun perlahan melalui kebiasaan sederhana yang kita lakukan setiap hari. Pilihan kecil yang sering dianggap sepele sesungguhnya membentuk karakter, menentukan arah, dan membuka peluang. Dengan kata lain, masa depan bukanlah “keberuntungan” semata, melainkan hasil dari kebiasaan yang konsisten.
Pertama, kebiasaan mencerminkan disiplin diri. Orang yang terbiasa datang tepat waktu, menyelesaikan tugas, dan memegang komitmen, cenderung dipercaya oleh lingkungan. Kepercayaan itulah yang kelak berubah menjadi kesempatan lebih besar, baik di sekolah, dunia kerja, maupun kehidupan sosial. Sebaliknya, kebiasaan menunda dan meremehkan tanggung jawab akan menumpuk menjadi masalah. Sedikit demi sedikit, reputasi terbentuk dari apa yang kita lakukan berulang kali bukan dari apa yang kita niatkan.
Kedua, kebiasaan baik melatih cara berpikir. Membaca setiap hari, mencatat ide, atau berdiskusi secara sehat membuat pikiran lebih terbuka dan kritis. Ketika kita terbiasa belajar, kita lebih mudah beradaptasi dengan perubahan zaman. Teknologi berkembang cepat, pekerjaan baru bermunculan, dan tantangan semakin kompleks. Mereka yang rajin meningkatkan diri tidak akan tertinggal, karena otak mereka sudah terlatih untuk mencari solusi, bukan hanya mengeluh.
Selain itu, kebiasaan terkait kesehatan memiliki dampak jangka panjang. Memilih makanan bergizi, bergerak aktif, dan tidur cukup mungkin terlihat sederhana, namun manfaatnya besar. Tubuh yang sehat memberi energi untuk berkarya, sementara tubuh yang sering diabaikan mudah sakit dan kelelahan. Banyak penyakit serius berawal dari kebiasaan buruk yang dibiarkan bertahun-tahun. Menjaga kesehatan sejak dini berarti menabung kekuatan untuk masa depan.
Kebiasaan juga membentuk sikap terhadap orang lain. Membiasakan berkata sopan, menghargai perbedaan, dan membantu tanpa pamrih menumbuhkan hubungan yang harmonis. Di dunia yang saling terhubung, kemampuan bekerja sama dan berempati tidak kalah penting dibanding kecerdasan. Sering kali, pintu rezeki terbuka karena orang lain merasa nyaman bekerja dengan kita. Kebiasaan baik dalam bersosial ibarat jembatan yang menghubungkan kita dengan kesempatan yang lebih luas.
Namun, membangun kebiasaan tidak selalu mudah. Godaan untuk menyerah, rasa malas, dan keraguan sering datang. Kuncinya adalah memulai dari langkah kecil. Alih-alih langsung menargetkan perubahan besar, fokuslah pada konsistensi. Misalnya, membaca 10 menit setiap hari, menulis rencana singkat sebelum tidur, atau menabung sedikit namun rutin. Ketika kebiasaan kecil berhasil dipertahankan, rasa percaya diri tumbuh, dan kita siap melangkah ke tahap berikutnya.
Yang tak kalah penting, evaluasi diri secara berkala. Tanyakan: kebiasaan apa yang mendekatkan saya pada tujuan, dan kebiasaan mana yang justru menghambat? Keberanian mengakui kesalahan membuat kita lebih bijak dalam memperbaiki diri. Ingat, tidak ada manusia yang sempurna. Yang membedakan adalah kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki kebiasaan buruk sebelum terlambat.
Pada akhirnya, masa depan cerah bukanlah janji yang datang dari luar tetapi ia lahir dari dalam diri. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk menanam kebiasaan baik: disiplin, tekun belajar, menjaga kesehatan, dan bersikap positif. Mungkin hasilnya tidak terlihat dalam semalam, tetapi seperti benih yang disiram dengan sabar, ia akan tumbuh menjadi pohon kuat yang memberi manfaat. Jadi, jika kita ingin melihat kehidupan yang lebih baik esok hari, mulailah membangun kebiasaan yang tepat hari ini.
Kamis01Januari 2026
Buya Dr. Mohamad Djasuli
Pengasuh PPM Tebu Falah