Panggung Dangdut DA7 atau Arena Donasi ? Netizen/Publik tuangkan kekecewaan atas sistem Virtual Gift

Jakarta,- Liputan Hukum Indonesia.–

Panggung megah Dangdut Academy 7 (DA7) berubah menjadi ruang kekecewaan publik.

Pertarungan Virtual Gift (VG) antara Valen asal Pamekasan dan Tasya dari Tangerang yang berlangsung hingga detik-detik terakhir justru meninggalkan tanda tanya besar terhadap arah dan esensi ajang pencarian bakat tersebut.

Pada pukul 00.49 WIB, Sabtu (27/12/2025), hasil akhir akumulasi Virtual Gift dari malam pertama hingga malam terakhir menetapkan Tasya unggul atas Valen.

Keputusan tersebut sontak memicu gelombang protes publik, terutama karena Valen selama kompetisi dinilai tampil paling konsisten, matang secara teknik, dan dominan dalam kualitas panggung.

Sejak awal, Valen tak pernah absen dari pujian dewan juri. Ia bahkan digelari “King of Dynamica”, “Pangeran Dangdut”, hingga disebut sebagai “Next Raja Dangdut” oleh Indosiar sendiri.

Label-label prestisius itu mempertegas posisi Valen sebagai simbol harapan masyarakat se-Indonesia akan lahirnya raja dangdut baru dari panggung DA7.

Namun harapan itu runtuh seketika ketika kualitas justru kalah oleh akumulasi angka Virtual Gift. Banyak pihak menilai bahwa DA7 tidak lagi sepenuhnya berbicara soal bakat, melainkan telah bergeser menjadi arena adu kekuatan modal dan mobilisasi dukungan digital.

Kekecewaan publik tumpah ruah di kolom komentar siaran langsung. Ribuan netizen melontarkan kritik tajam terhadap sistem penilaian yang dinilai timpang dan tidak adil. Beberapa komentar bahkan menyebut bahwa ajang pencarian bakat kini telah kehilangan marwahnya.

“Ini bukan lagi pencarian bakat, tapi pencarian gift,” tulis salah satu netizen.

Komentar lain yang viral menyebut DA7 sebagai “Ajang Pencarian Bakat Tergagal Sepanjang Sejarah”, sebuah sindiran keras terhadap konsep kompetisi yang dianggap gagal menjaga objektivitas seni.

Fenomena ini membuka diskursus serius: apakah panggung pencarian bakat masih menjunjung kualitas vokal, musikalitas, dan karakter, atau justru telah menyerah pada mekanisme popularitas dan transaksi digital? Kekalahan Valen bukan sekadar soal satu peserta yang gugur di malam final.

Bagi publik, ini adalah potret buram bagaimana kualitas bisa dikalahkan oleh sistem, dan bagaimana kepercayaan penonton terhadap ajang pencarian bakat perlahan terkikis.

Meski tak menyandang gelar juara, bagi banyak masyarakat Indonesia, Valen tetap dianggap sebagai pemenang sesungguhnya bukan karena angka, melainkan karena kualitas yang konsisten dan pengakuan publik yang tak terbantahkan.

#mochrokib/morogus68

Leave a Comment