Sudut Pandang Sakit Mental dan Sehat Mental

Oleh Shofiyah Amirotin Psikologi

 

Bangkalan,Liputan Hukum Indonesia.–
Kesehatan mental adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Kondisi ini bukan hanya tentang tidak adanya gangguan jiwa, tetapi juga bagaimana seseorang mampu berpikir jernih, mengendalikan emosi, dan beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam dunia ilmu pengetahuan, sehat mental dan sakit mental biasanya dipahami melalui tiga sudut pandang, yaitu biologis, psikologis, dan sosiologis.
Dari sisi biologis, kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh, khususnya otak, sistem hormon, faktor genetik, serta keadaan ibu selama kehamilan. Gangguan pada otak, seperti demensia, epilepsi, atau kerusakan saraf, bisa menurunkan kemampuan berpikir dan mengingat. Begitu pula ketidakseimbangan hormon bisa membuat emosi seseorang tidak stabil. Faktor keturunan juga berperan, misalnya pada kasus skizofrenia atau gangguan bipolar. Bahkan, kondisi ibu saat hamil seperti kurang gizi, stres, atau terkena penyakit tertentu dapat memengaruhi perkembangan mental anak di kemudian hari.
Sementara dari sisi psikologis, sehat atau sakit mental dipengaruhi oleh pengalaman hidup, proses belajar, serta pemenuhan kebutuhan. Pengalaman masa kecil yang kurang baik, misalnya, bisa meninggalkan luka batin yang berpengaruh sampai dewasa. Proses belajar dari lingkungan juga sangat menentukan, karena perilaku manusia banyak terbentuk dari hasil meniru, mendapat hadiah, atau bahkan hukuman. Jika seseorang terbiasa melihat perilaku agresif, ada kemungkinan ia menirunya. Selain itu, kebutuhan yang tidak terpenuhi seperti rasa aman, kasih sayang, atau penghargaan sering kali membuat seseorang merasa frustrasi, cemas, atau mengalami gangguan mental tertentu.
Perspektif sosiologis menekankan bahwa kesehatan mental tidak bisa dipisahkan dari lingkungan sosial. Faktor eksternal seperti kondisi ekonomi, hubungan keluarga, budaya, atau tekanan sosial berpengaruh besar terhadap kesejahteraan psikologis. Teori “stress” menjelaskan bahwa peristiwa hidup yang berat, seperti perceraian, kehilangan pekerjaan, atau kematian orang terdekat, dapat meningkatkan risiko gangguan mental. Sementara teori “labelling” menyebut bahwa ketika seseorang dicap menyimpang oleh masyarakat, ia bisa benar-benar menjadi seperti label yang diberikan kepadanya. Dengan kata lain, cara lingkungan memperlakukan individu sangat menentukan bagaimana kondisi mentalnya berkembang.
Pengaruh sosial terhadap kesehatan mental bisa datang dari berbagai arah. Orang yang tumbuh di lingkungan miskin, penuh konflik, atau mengalami diskriminasi lebih rentan merasa tertekan. Begitu pula korban kekerasan, bencana, atau pelecehan di masa kecil sering membawa trauma mendalam. Tekanan jangka panjang, seperti pernikahan yang bermasalah atau pekerjaan yang menindas, juga bisa melemahkan daya tahan mental seseorang.
Dari ketiga perspektif tersebut, kita dapat melihat bahwa sehat mental bukanlah hal yang sederhana. Ia dipengaruhi oleh faktor dari dalam tubuh, pengalaman pribadi, hingga lingkungan sosial yang lebih luas. Karena itu, menjaga kesehatan mental membutuhkan perhatian menyeluruh seperti merawat tubuh, mengelola emosi, sekaligus menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung. Dengan memahami ketiga sudut pandang ini, kita bisa lebih bijak dalam memandang orang yang mengalami gangguan mental, serta lebih peduli dalam menjaga keseimbangan diri sendiri.

Selasa, 25November 2025
Buya Dr. Mohamad Djasuli
Pengasuh PPM Tebu Falah Telang

Leave a Comment