Bekas tambang Galian C Menewaskan 6 Santri jabal Qur’an di Bukit kapurJeddih desa parseh

Bangkalan- Liputan Hukum Indonesia

Ditengah marak nya pemberian gelar Pahlawan Nasional terhadap syeh Mohammad Kholil bin Abdul Latif Al Bangakalani ,salah satu pondok pesantren baru yang di dirikan kurang lebih 5 tahun di desa Parseh kecamatan Socah dusun keseman ,terdapat Duka yang mendalam menyelimuti Pondok Pesantren Jabal Qur’an tersebut.

Setelah ke enam santrinya tewas tenggelam di genangan air bekas tambang galian C yang kini masih aktive di gunakan untuk pembuatan batu bata putih. pada Kamis sore, (20/11/25).

Informasi yang dihimpun media kami menyebutkan, tragedi itu terjadi saat para santri memanfaatkan hari libur Kamis untuk bermain dan berolahraga di kawasan perbukitan dan juga tambang galian C yang sebagian Beroprasi yang juga sebagian di buat proses pembuatan batu bata putih, yang tak jauh dari pondok.

Salah satu saksi mata Moh Muad masyarakat setempat juga penjaga warung, mengungkapkan bahwa aktivitas santri di area tersebut sebenarnya telah menjadi kebiasaan setiap hari kamis.

“Seperti biasa, pada hari Kamis kegiatan di pondok tersebut libur. Tetapi sore tadi sedang ada jadwal olahraga . Ada guru yang mengawasi, namun namanya anak-anak, meski dilarang mereka tetap bermain di genangan air itu,” jelas Moh muad

Juga disampaikan oleh salah satu warga pondok pesantren bahwa kegiatan olahraga di area perbukitan sudah biasa dilakukan. Ia mengaku sudah sering kalau memberikan teguran keras terhadap parasantri untuk tidak bermain atau coba coba berenang di genangan bekas galian tambang yang sangat dalam tersebut.

“Kami sudah sering melarang anak-anak agar tidak bermain di genangan itu. Bahkan sudah dipasang palang larangan. Mungkin tetapi mereka tak menggubris nya.” ucap nya

Ia juga menerangkan kronologi awal kejadian. Para santri diduga bermain dengan cara berbahasa madura”nyellem jung Abidtan menang ” yang artinya menyelam yang paling lama menang,di dalam air. Namun beberapa di antaranya tidak muncul kembali ke permukaan.di duga tersangkut bebatuan bekas tambang yang tak aturan.

“cuman Yang terlihat hanya beberapa sandal nya saja. Teman-temannya mencoba menolong, tetapi malah ikut tenggelam dan menjadi korban juga ,”tambah nya

Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Para pengurus pondok segera melaporkan kejadian tersebut dan melakukan evakuasi ke Puskesmas Jedih.

Sementara itu Kepala Puskesmas Jedih, Purwanti Dr g , membenarkan bahwa enam santri telah dibawa ke fasilitas kesehatan dalam kondisi meninggal dunia. Awalnya hanya satu korban yang datang, kemudian menyusul lima korban lain.

“Mereka sudah kehilangan oksigen. Wajahnya tampak bengkak dan membiru,” ujar Purwanti.

Ia juga menjelaskan bahwa para korban berasal dari berbagai daerah, yakni dua santri dari Kabupaten Sampang, satu dari Sidoarjo, dua dari Surabaya, dan satu dari Desa Parseh Bangkalan.

“Atas permintaan keluarga, keenam korban tidak dilakukan autopsi karena mereka masih anak-anak.sehingga kami langsung mengantarkan jenazah ke rumah duka masing-masing ,” tambahnya.

Usai kejadian, Wakapolres Bangkalan Kompol HJ Hosnah Nurhidayah di dampingi Kapolsek socah AKP Pariadi SH dan tim kepolisian langsung melakukan olah TKP di lokasi genangan air tersebut yang di saksikan oleh Kepala desa Parseh MOH ILYAS dan Sekdes Nya MAJUIN, Hingga kini pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terkait penyebab pasti dan potensi kelalaian yang terlibat dalam insiden tersebut.

(Aguslim)

Leave a Comment