JELAJAH MADINAH TERSEMBUNYI: Pembimbing dan Koordinator Jamaah KBIHU AG* *Menyusuri Sumur Bersejarah hingga Surga Kuliner Syari Qurban

MADINAH – Liputan Hukum Indonesia.–

Di sela rangkaian pelayanan jamaah haji, sejumlah Pembimbing PIH KBIHU Al-Gratis (AG), Karom (Ketua Rombongan), dan Karu (Ketua Regu) melaksanakan kunjungan khusus ke beberapa situs bersejarah dan kawasan kuliner khas Madinah yang jarang tersentuh agenda ziarah reguler.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (18/6/2026) itu dipimpin langsung oleh pembimbing KBIHU AG sebagai bagian dari pengayaan wawasan sejarah dan budaya Madinah bagi para pengurus rombongan.

# *Bi’ru Hejim dan Bi’ru Ghors: Jejak Sumur-Sumur Bersejarah*

Perjalanan dimulai menuju Bi’ru Hejim dan Bi’ru Ghors, dua sumur tua yang dikenal dalam tradisi sejarah Madinah. Bi’ru Ghors secara khusus memiliki kedudukan istimewa karena disebut dalam beberapa riwayat sebagai sumur yang airnya pernah digunakan Rasulullah SAW.

“Kita mungkin tidak bisa memastikan seluruh detail sejarah setiap sumur, tetapi yang jelas tempat-tempat seperti ini mengingatkan kita bahwa kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat sangat dekat dengan kesederhanaan. Dari sumur-sumur inilah masyarakat Madinah dahulu mendapatkan air untuk kehidupan sehari-hari,” ujar salah seorang pembimbing KBIHU AG.

Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan tentang peran sumur-sumur tersebut dalam kehidupan masyarakat Madinah pada masa awal Islam.

# *Turbatus Syifa: Tradisi dan Kehati-hatian Ilmiah*

Rombongan kemudian mengunjungi Turbatus Syifa, lokasi yang dikenal masyarakat dengan sebutan “tanah penyembuh”. Dalam penjelasannya, pembimbing mengingatkan agar jamaah membedakan antara tradisi masyarakat dan keyakinan agama yang memiliki dalil yang kuat.

“Tempat ini dikenal dalam tradisi lokal sebagai Turbatus Syifa, namun kita tetap harus bersikap proporsional. Tidak setiap tradisi berarti memiliki keutamaan syar’i khusus. Yang utama bagi seorang muslim adalah menjaga tauhid dan mengambil pelajaran sejarah tanpa berlebihan,” jelas pembimbing rombongan.

# *Masjid Bilal dan Inspirasi Muadzin Nabi*

Destinasi berikutnya adalah Masjid Bilal, yang mengingatkan jamaah pada sosok Bilal bin Rabah. Nama Bilal selalu identik dengan panggilan azan yang menggema di Kota Madinah pada masa Rasulullah SAW.

Dalam kesempatan itu, para pembimbing mengisahkan keteguhan Bilal mempertahankan Islam di tengah siksaan Quraisy serta kemuliaannya sebagai muadzin Nabi.

“Bilal mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh asal-usulnya, tetapi oleh iman dan keteguhannya di jalan Allah,” ujar salah seorang peserta.

# *Menikmati Syari Qurban, Pusat Kuliner Favorit Jamaah*

Perjalanan ditutup dengan kunjungan ke kawasan Souq Qurban, yang oleh jamaah Indonesia sering disebut Syari Qurban atau Qurban Street. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat kuliner populer di Madinah dengan berbagai pilihan makanan Timur Tengah, teh Arab, dan hidangan khas lokal.

Suasana santai dan penuh keakraban terlihat ketika para pembimbing, Karom, dan Karu menikmati hidangan sambil berbagi pengalaman mendampingi jamaah selama musim haji.

“Setelah berhari-hari fokus melayani jamaah, momen seperti ini menjadi kesempatan untuk menyegarkan diri sekaligus mempererat kebersamaan tim,” ungkap salah seorang Karom.

Menurut pembimbing KBIHU AG, kunjungan ini bukan sekadar wisata tambahan, melainkan bagian dari upaya memperluas pemahaman sejarah dan budaya Madinah bagi para koordinator jamaah agar pelayanan kepada peserta semakin berkualitas dan bermakna.

Quote Hari Ini

# Madinah bukan hanya kota ziarah, tetapi kota yang menyimpan ribuan cerita. Dari sumur-sumur tua hingga pasar-pasar kuliner, setiap sudutnya mengajarkan sejarah, kesederhanaan, dan kebersamaan.

— Pembimbing KBIHU AG

KBIHU AG saat ini terus berkomitmen menghadirkan pembinaan ibadah yang memadukan aspek spiritual, sejarah, edukasi, dan kekeluargaan bagi jamaah haji maupun umrah.

Leave a Comment