AIR MATA DAN SHOLAWAT MENGIRINGI KEPULANGAN: Kloter 69 dan Jamaah KBIHU AG Tinggalkan Madinah dengan Penuh Haru

MADINAH – Liputan Hukum Indonesia.–

Setiap pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan. Namun tidak semua perpisahan mampu meninggalkan jejak sedalam perpisahan dengan Kota Madinah Al-Munawwarah, kota yang selama beberapa hari terakhir menjadi rumah bagi jamaah haji Kloter 69, termasuk jamaah KBIHU Al-Gratis (AG).

Kamis dini hari, suasana haru mulai terasa sejak para jamaah menurunkan koper-koper mereka dari kamar hotel. Lorong-lorong hotel yang beberapa hari sebelumnya dipenuhi canda, tawa, dan cerita perjalanan ibadah kini berubah menjadi saksi bisu perpisahan yang menggetarkan hati.

Satu per satu jamaah turun menuju lobi hotel. Sebagian masih menyempatkan diri memandang ke arah Masjid Nabawi dari kejauhan, seolah enggan mengucapkan selamat tinggal kepada kota yang telah memberikan begitu banyak kenangan spiritual.

Bagi banyak jamaah, meninggalkan Madinah terasa lebih berat daripada meninggalkan kampung halaman. Sebab di kota inilah mereka merasakan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Di kota inilah mereka memperbanyak shalawat, menziarahi makam Rasulullah SAW, berdoa di Raudhah, dan menapaki jejak para sahabat yang telah mengubah sejarah dunia.

Dengan tertib dan penuh kekhidmatan, rombongan Kloter 69 bersama jamaah KBIHU AG kemudian bergerak meninggalkan hotel menuju **Prince Mohammad Bin Abdulaziz International Airport**.

Sepanjang perjalanan menuju bandara, sebagian jamaah memilih memperbanyak dzikir dan shalawat. Sebagian lainnya memandang keluar jendela bus, menikmati untuk terakhir kalinya pemandangan Kota Madinah yang begitu mereka cintai.

Tak sedikit mata yang berkaca-kaca ketika kubah dan menara Masjid Nabawi perlahan menghilang dari pandangan.

“Rasanya baru kemarin kami tiba di Madinah, ternyata hari ini sudah harus pulang,” ungkap salah seorang jamaah dengan mata yang tampak basah.

Setibanya di bandara, para petugas dan pembimbing memastikan seluruh proses keberangkatan berjalan lancar. Pembimbing PIH KBIHU AG, Karom, dan Karu tampak sigap membantu jamaah, khususnya para lansia, dalam proses pemeriksaan dokumen, bagasi, hingga menuju ruang tunggu keberangkatan.

Kebersamaan yang telah terjalin selama di Tanah Suci semakin terasa ketika para jamaah saling membantu dan saling menguatkan menjelang kepulangan.

Momen yang paling menggetarkan terjadi ketika panggilan boarding diumumkan.

Dengan langkah perlahan, jamaah Kloter 69 mulai bergerak menuju pesawat **Saudia** yang akan membawa mereka meninggalkan Tanah Suci menuju Indonesia.

Di lorong menuju pesawat, banyak jamaah terlihat terus melantunkan shalawat dan doa.

Ada yang berdoa agar hajinya mabrur.

Ada yang memohon agar keluarganya diberikan keberkahan.

Ada pula yang memohon agar suatu hari Allah kembali mengundangnya ke Tanah Suci.

“Ya Allah, jangan jadikan ini kunjungan terakhir kami. Panggillah kami kembali bersama keluarga kami untuk menjadi tamu-Mu di Baitullah dan berziarah kepada Nabi-Mu,” doa yang berkali-kali terdengar dari para jamaah.

Ketika seluruh jamaah telah duduk di dalam pesawat, suasana hening sesaat menyelimuti kabin. Sebagian jamaah menundukkan kepala dalam doa. Sebagian lainnya masih memandangi Madinah dari balik jendela pesawat.

Mereka sadar, beberapa menit lagi pesawat akan terbang meninggalkan kota yang telah mengisi hati mereka dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bagi jamaah KBIHU AG, perjalanan pulang bukanlah akhir dari ibadah haji. Justru inilah awal dari ujian sesungguhnya: bagaimana menjaga semangat ibadah, akhlak, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW setelah kembali ke tanah air.

Menurut pembimbing KBIHU AG, keberhasilan haji tidak hanya diukur dari sampainya seseorang ke Makkah dan Madinah, tetapi juga dari perubahan sikap dan kualitas hidup setelah kembali ke tengah masyarakat.

“Kita pulang membawa gelar haji, tetapi yang lebih penting adalah membawa pulang nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW selama kita berada di Tanah Suci,” ujar Mohamad Djasuli sebelum keberangkatan.

Perjalanan pulang mungkin akan mengakhiri rangkaian ibadah haji tahun ini. Namun kenangan tentang Ka’bah, Arafah, Mina, Masjid Nabawi, Raudhah, dan seluruh jejak sejarah Islam yang telah dikunjungi akan terus hidup dalam hati para jamaah.
# Quote Kepulangan

> **”Pesawat ini mungkin membawa kami pulang ke Indonesia, tetapi sebagian hati kami akan tetap tertinggal di Madinah, di kota tempat Rasulullah SAW beristirahat dan cinta itu tumbuh tanpa pernah diminta.”**

Kini Kloter 69 dan jamaah KBIHU AG meninggalkan Madinah dengan harapan yang sama: semoga Allah menerima seluruh amal ibadah mereka, menjadikan haji mereka mabrur, mempertemukan kembali dengan Rasulullah SAW di hari akhir, serta mengundang mereka kembali ke Tanah Suci bersama anak, cucu, dan keluarga tercinta pada kesempatan-kesempatan berikutnya. **Labbaikallahumma Labbaik… hingga panggilan itu datang kembali.** 🌹🕋✈️

Leave a Comment