DARI MAGNET BUMI MENUJU CAHAYA WAHYU: Jamaah KBIHU AG Menyaksikan Keajaiban Alam, Menelusuri Jejak Al-Qur’an, dan Shalat di Masjid Bersejarah; Qiblatain dan Masjid Jum’at

DARI MAGNET BUMI MEMADINAH – Liputan Hukum Indonesia.–

Setelah beberapa hari menapaki jejak perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat di berbagai situs bersejarah Kota Madinah, Jamaah Haji KBIHU Al-Gratis (AG) kembali mengikuti rangkaian ziarah edukatif dan spiritual pada Senin, 15 Juni 2026. Kali ini, rombongan mengunjungi kawasan Jabal Magnet, Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd, Masjid Qiblatain, serta Masjid Jum’at, yang menjadi salah satu saksi penting perjalanan hijrah Rasulullah SAW.

Didampingi Tour Leader sekaligus pembimbing manasik, Mohamad Djasuli, perjalanan kali ini menghadirkan perpaduan unik antara keajaiban alam, sejarah peradaban Islam, dan pelajaran keimanan yang menyentuh hati.

Perjalanan diawali menuju kawasan **Wadi Al-Baidha** yang lebih dikenal oleh jamaah Indonesia sebagai Jabal Magnet. Di lokasi ini, jamaah menyaksikan langsung fenomena alam yang membuat kendaraan tampak bergerak sendiri meskipun dalam posisi netral.

Namun sebagaimana ciri khas pembinaan KBIHU AG, fenomena tersebut tidak sekadar dijadikan tontonan. Jamaah mendapatkan penjelasan mengenai sisi ilmiah dan sejarah kawasan Al-Baidha’, sekaligus diajak merenungkan kebesaran Allah SWT yang menciptakan berbagai tanda kekuasaan-Nya di muka bumi.

“Yang paling penting bukan bagaimana mobil itu bergerak, tetapi bagaimana fenomena itu semakin menguatkan keyakinan kita akan kebesaran Allah SWT,” jelas Mohamad Djasuli di hadapan jamaah.

Dari kawasan Al-Baidha’, rombongan melanjutkan perjalanan menuju **King Fahd Glorious Quran Printing Complex**, percetakan Al-Qur’an terbesar di dunia yang setiap tahunnya mencetak jutaan mushaf untuk disebarkan ke berbagai penjuru dunia.

Di lokasi ini, jamaah menyaksikan secara langsung bagaimana proses pencetakan Al-Qur’an dilakukan dengan standar ketelitian yang sangat tinggi. Penjelasan mengenai sejarah penghimpunan Al-Qur’an sejak masa Rasulullah SAW, pengumpulan mushaf pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, hingga penyatuan Mushaf Utsmani pada masa Khalifah Utsman bin Affan RA membuat kunjungan tersebut terasa sangat berkesan.

Banyak jamaah mengaku terharu ketika menyadari bahwa mushaf yang selama ini mereka baca merupakan bagian dari mata rantai panjang penjagaan Al-Qur’an yang telah berlangsung selama lebih dari 14 abad.

“Kita membaca Al-Qur’an setiap hari, tetapi baru hari ini kami benar-benar memahami betapa besar perjuangan umat Islam dalam menjaga setiap hurufnya,” ungkap salah seorang jamaah.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju **Masjid Qiblatain**, masjid yang menjadi saksi salah satu peristiwa monumental dalam sejarah Islam, yakni perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka’bah di Makkah.

Di tempat tersebut, jamaah diajak membayangkan bagaimana para sahabat yang sedang melaksanakan shalat langsung berputar arah mengikuti perintah Allah SWT yang turun kepada Rasulullah SAW. Kisah tersebut menjadi pelajaran tentang kepatuhan total para sahabat kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Perubahan kiblat mengajarkan kepada kita bahwa seorang mukmin sejati selalu siap mengikuti perintah Allah, sekalipun harus mengubah kebiasaan yang telah lama dijalani,” tutur Mohamad Djasuli.

Puncak perjalanan spiritual hari itu berlangsung di **Masjid Al-Jumu’ah**, tempat Rasulullah SAW melaksanakan Shalat Jum’at pertama setelah hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini jamaah KBIHU AG berkesempatan turun dan melaksanakan shalat di masjid bersejarah tersebut. Suasana khusyuk begitu terasa ketika para jamaah menyadari bahwa mereka sedang beribadah di lokasi yang pernah digunakan Rasulullah SAW dan para sahabat lebih dari 14 abad silam.

Banyak jamaah mengabadikan momen tersebut sebagai salah satu pengalaman paling berkesan selama berada di Madinah.

Menurut Mohamad Djasuli, rangkaian kegiatan ziarah ini dirancang untuk memberikan pengalaman yang utuh kepada jamaah, tidak hanya dari sisi ibadah, tetapi juga pemahaman sejarah dan peradaban Islam.

“Kami ingin jamaah melihat bahwa Islam dibangun oleh wahyu, ilmu pengetahuan, perjuangan, dan ketaatan. Semua itu dapat dipelajari dari tempat-tempat yang kita kunjungi hari ini,” ujarnya.

Program pembinaan yang memadukan edukasi sejarah, penguatan spiritual, dan pengalaman ibadah langsung seperti inilah yang selama ini menjadi ciri khas KBIHU AG dalam mendampingi jamaah haji dan umrah.

Untuk program umrah, KBIHU AG saat ini bekerja sama dengan [Ventour Travel](https://ventour.co.id?utm_source=chatgpt.com) sebagai mitra penyelenggara perjalanan, sementara pembinaan manasik dan pendampingan ibadah tetap dilakukan langsung oleh Mohamad Djasuli dan tim pembimbing berpengalaman.

Bagi para jamaah, perjalanan hari itu bukan sekadar kunjungan ke beberapa lokasi di Madinah. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa Islam yang dinikmati hari ini lahir dari perjalanan panjang para nabi, sahabat, ulama, dan penjaga Al-Qur’an yang mengabdikan hidup mereka untuk agama Allah SWT.

### Quote Hari Ini

> **”Di Jabal Magnet kami menyaksikan keajaiban ciptaan Allah, di Percetakan Al-Qur’an kami melihat penjagaan firman-Nya, dan di Masjid Jum’at kami merasakan jejak langkah Rasulullah SAW yang masih hidup dalam hati umatnya hingga hari ini.”** — *Mohamad Djasuli*.

Perjalanan mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi pelajaran yang dibawa pulang para jamaah akan terus hidup sebagai bekal spiritual sepanjang hayat.

Leave a Comment