Diawali Shalat di Masjid Nabawi, Jamaah Mendapat Pembekalan Sejarah, Keutamaan, dan Adab Berziarah ke Kota Nabi
**Madinah Al-Munawwarah –Liputan Hukum Indonesia.–
Setelah menempuh perjalanan darat dari Makkah, jamaah KBIHU AG yang tergabung dalam Kloter 69 akhirnya tiba di **Madinah** pada Rabu sore sekitar pukul 15.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Kedatangan di Kota Nabi disambut dengan suasana haru dan penuh syukur, mengingat Madinah merupakan kota yang menjadi pusat perjuangan dakwah Rasulullah ﷺ sekaligus tempat beliau dimakamkan.
Sesampainya di hotel dan setelah beristirahat sejenak, seluruh jamaah diarahkan menuju **Masjid Nabawi** untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah.
Bagi sebagian jamaah, momen pertama kali menatap kemegahan Masjid Nabawi menjadi pengalaman yang sangat menggetarkan hati. Tidak sedikit yang tampak terdiam, meneteskan air mata, dan melantunkan shalawat saat melihat masjid yang menjadi pusat pemerintahan dan dakwah Rasulullah ﷺ tersebut.
## Mengenal Sejarah Masjid Nabawi
Sebelum memasuki rangkaian ziarah, pembimbing KBIHU AG, **Mohamad Djasuli**, memberikan penjelasan mengenai sejarah Masjid Nabawi sejak masa Rasulullah ﷺ hingga perkembangan bangunan yang ada saat ini.
Dijelaskan bahwa Masjid Nabawi pertama kali dibangun langsung oleh Rasulullah ﷺ setelah hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun pertama Hijriah. Bangunan awalnya sangat sederhana, berdinding bata tanah dan beratap pelepah kurma.
Seiring perkembangan Islam, masjid ini mengalami perluasan pada masa para khalifah, dinasti-dinasti Islam, hingga berbagai proyek pengembangan besar yang dilakukan pemerintah Arab Saudi sehingga kini menjadi salah satu masjid terbesar di dunia.
Meski bangunannya telah berubah dan berkembang, nilai sejarah, spiritualitas, dan keberkahan Masjid Nabawi tetap terjaga hingga sekarang.
## Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi
Dalam pembekalan tersebut jamaah juga diingatkan tentang keutamaan beribadah di Masjid Nabawi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Karena itu para jamaah diimbau untuk memanfaatkan setiap kesempatan selama berada di Madinah dengan memperbanyak shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bershalawat, dan berdoa.
Menurut pembimbing, Madinah merupakan kota yang sangat tepat untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah ﷺ sekaligus memperdalam penghayatan terhadap sunnah beliau.
## Menjaga Adab di Kota Rasulullah ﷺ
Dalam pengarahannya, KBIHU AG menekankan pentingnya menjaga adab selama berada di Madinah.
Para jamaah diingatkan agar menjaga lisan, menjaga ketenangan, memperbanyak shalawat, menghindari perdebatan yang tidak perlu, serta menunjukkan penghormatan kepada kota yang menjadi tempat tinggal, perjuangan, dan peristirahatan Rasulullah ﷺ.
Pembimbing menjelaskan bahwa para ulama sejak dahulu selalu mengingatkan bahwa memasuki Madinah tidak sama dengan memasuki kota-kota biasa. Madinah memiliki kedudukan istimewa sebagai kota hijrah Rasulullah ﷺ dan tempat berkembangnya peradaban Islam.
Karena itu, setiap langkah di Madinah hendaknya diiringi rasa hormat, cinta, dan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ.
## Sowan Rasulullah ﷺ Melalui Babus Salam
Usai melaksanakan shalat Maghrib, jamaah laki-laki KBIHU AG kemudian diajak menuju area Raudhah dan makam Rasulullah ﷺ melalui **Bab as-Salam**, pintu yang sejak dahulu dikenal sebagai salah satu jalur utama bagi para peziarah yang hendak menyampaikan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Dengan penuh ketertiban dan kekhusyukan, jamaah berjalan sambil memperbanyak shalawat, mengingat kembali perjuangan Rasulullah ﷺ yang telah membawa risalah Islam hingga sampai kepada umat di berbagai penjuru dunia.
Dalam kesempatan tersebut dijelaskan bahwa ziarah ke makam Rasulullah ﷺ bukanlah sekadar kunjungan sejarah, melainkan bentuk penghormatan dan ungkapan cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa para nabi memiliki kehidupan khusus di alam barzakh yang berbeda dengan kehidupan manusia biasa. Rasulullah ﷺ telah wafat secara syar’i sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis shahih, namun Allah SWT memberikan kehidupan barzakh yang mulia kepada para nabi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Para nabi itu hidup di dalam kubur mereka dan mereka melaksanakan shalat.”
(HR. Abu Ya’la dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama)
Karena itu para jamaah diajarkan untuk menyampaikan salam dengan penuh adab dan penghormatan, sebagaimana diajarkan para ulama:
> **السلام عليك يا رسول الله**
>
> *”Semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Rasulullah.”*
Setelah menyampaikan salam kepada Rasulullah ﷺ, jamaah juga menyampaikan salam kepada dua sahabat utama yang dimakamkan berdekatan dengan beliau, yaitu **Abu Bakar Ash-Shiddiq** dan **Umar bin Khattab**.
## Awal Menapaki Sirah Nabawiyah
Kegiatan malam pertama di Madinah tersebut menjadi pembuka dari rangkaian program pendidikan sejarah Islam yang telah disiapkan KBIHU AG selama berada di Kota Nabi.
Dalam beberapa hari ke depan, jamaah akan diajak menelusuri berbagai lokasi penting yang berkaitan dengan perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, para sahabat, keluarga Nabi, serta para syuhada yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi tegaknya agama Islam.
Bagi KBIHU AG, kunjungan ke Madinah bukan sekadar pelengkap perjalanan haji, melainkan kesempatan emas untuk memperkuat mahabbah kepada Rasulullah ﷺ, memahami perjuangan beliau secara lebih mendalam, serta membawa pulang nilai-nilai keteladanan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
> **“Di Makkah kami belajar tentang penghambaan kepada Allah, di Madinah kami belajar bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan akhlak, cinta, dan peradaban kepada umat manusia.”** – Pembimbing KBIHU AG.