BADAR, MADINAH
– Liputan Hukum Indonesia.–
Suasana haru dan penuh perenungan menyelimuti rombongan Jamaah Haji KBIHU Al-Gratis (AG) saat mengikuti program ziarah sejarah ke kawasan Badar pada Sabtu (13/6/2026). Didampingi Tour Leader sekaligus pembimbing manasik, KH. Dr. Mohamad Djasuli dan ustad Muzakki, para jamaah diajak menelusuri lokasi-lokasi bersejarah yang menjadi saksi kemenangan pertama umat Islam dalam Perang Badar Al-Kubra.
Perjalanan menuju Badar yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Madinah bukan sekadar perjalanan wisata religi. Bagi jamaah KBIHU AG, perjalanan ini menjadi momentum menghidupkan kembali kisah perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya agama Allah.
Sejak meninggalkan Madinah, para jamaah mendapatkan penjelasan sejarah secara langsung di dalam bus mengenai perjalanan Rasulullah SAW menuju Badar, strategi perang yang diterapkan, hingga berbagai mukjizat dan pertolongan Allah SWT yang menyertai kaum muslimin pada saat itu.
Setibanya di kawasan Badar, rombongan terlebih dahulu berziarah ke kompleks Makam Syuhada Badar. Di tempat inilah para sahabat yang gugur dalam Perang Badar dimakamkan. Dengan penuh khidmat, jamaah memanjatkan doa dan mengirimkan salam kepada para pejuang Islam yang telah mengukir sejarah kemenangan pertama umat Islam.
“Ketika kita berdiri di sini, sesungguhnya kita sedang berdiri di tanah yang pernah menjadi saksi turunnya pertolongan Allah kepada orang-orang yang beriman. Di sinilah para sahabat membuktikan bahwa kekuatan iman lebih besar daripada jumlah pasukan dan persenjataan,” tutur ustad Muzakki di hadapan jamaah.
Banyak jamaah tampak larut dalam suasana haru ketika mendengarkan kisah para Syuhada Badar, termasuk para pemuda yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan Islam. Tidak sedikit yang mengabadikan momen tersebut sambil merenungkan perjuangan generasi pertama umat Islam.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju lokasi yang diyakini sebagai tempat terbunuhnya Abu Jahal, tokoh Quraisy yang dikenal sebagai salah satu musuh terbesar dakwah Rasulullah SAW. Di lokasi tersebut, jamaah mendapatkan penjelasan mengenai bagaimana kesombongan dan keangkuhan Abu Jahal akhirnya berakhir di medan Badar, sekaligus menjadi pelajaran bahwa kekuasaan dan kedudukan tidak berarti apa-apa di hadapan kehendak Allah SWT.
Rangkaian ziarah semakin menarik ketika rombongan mengunjungi Masjid Aris atau Masjid Al-‘Arisy, lokasi yang diyakini sebagai tempat Rasulullah SAW bermunajat dan memanjatkan doa menjelang berlangsungnya Perang Badar. Di tempat sederhana inilah Rasulullah SAW memohon pertolongan Allah dengan penuh kerendahan hati hingga akhirnya turun kemenangan yang mengubah sejarah dunia Islam.
“Di sinilah Rasulullah SAW berdoa dengan penuh pengharapan. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa ikhtiar harus selalu disertai doa dan ketergantungan kepada Allah SWT,” jelas Mohamad Djasuli.
Tidak hanya itu, jamaah juga diajak mengunjungi Bi’ru Rauha’ dan Bi’ru Syifa’, dua sumur bersejarah yang berada di jalur perjalanan Madinah menuju Badar. Meski tidak sepopuler lokasi ziarah lainnya, kedua tempat tersebut menyimpan nilai sejarah yang mendalam dan menjadi bagian dari perjalanan dakwah Rasulullah SAW.
Menurut Mohamad Djasuli dan Muzakki, kunjungan ke lokasi-lokasi yang jarang masuk dalam paket ziarah reguler menjadi salah satu bentuk komitmen KBIHU AG dalam memberikan pemahaman sejarah Islam yang lebih komprehensif kepada jamaah.
“Kami ingin jamaah tidak hanya mengenal tempat-tempat yang populer, tetapi juga memahami perjalanan dakwah Rasulullah secara lebih utuh. Banyak situs bersejarah yang menyimpan pelajaran luar biasa, namun jarang dikunjungi oleh rombongan haji maupun umrah,” ujarnya.
Di sepanjang perjalanan, suasana kekeluargaan tampak begitu terasa. Para jamaah saling berbagi cerita, pengalaman spiritual, serta rasa syukur karena diberikan kesempatan menapakkan kaki di lokasi-lokasi yang selama ini hanya mereka baca dalam kitab-kitab sirah Nabi.
Program ziarah sejarah Badar ini menjadi salah satu kegiatan yang paling berkesan bagi jamaah KBIHU AG. Selain menambah wawasan keislaman, perjalanan tersebut juga memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW dan para sahabat yang telah memperjuangkan agama Islam hingga sampai kepada generasi saat ini.
Saat ini, KBIHU AG terus berkomitmen memberikan pelayanan pembinaan ibadah yang mengedepankan aspek spiritual, edukasi sejarah, dan pendampingan yang intensif. Untuk program umrah, *KBIHU AG sementara bekerja sama dengan Ventour Travel sebagai mitra penyelenggara perjalanan Umroh* Sedangkan pembinaan manasik dan pendampingan ibadah dilakukan langsung oleh Mohamad Djasuli dan tim pembimbing berpengalaman.
Bagi para jamaah, perjalanan ke Badar bukan sekadar mengunjungi tempat bersejarah, tetapi sebuah perjalanan hati yang mengajarkan arti pengorbanan, keteguhan iman, dan keyakinan kepada pertolongan Allah SWT.
“Ketika berdiri di Badar, kita sadar bahwa Islam yang kita nikmati hari ini dibangun dengan air mata, darah, dan pengorbanan para sahabat. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali ke Tanah Suci dan meneladani perjuangan mereka dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap salah seorang jamaah dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan ke Badar pun berakhir siang hari. Namun nilai-nilai perjuangan yang dipetik dari tanah bersejarah tersebut akan terus hidup dalam hati para jamaah, menjadi bekal spiritual yang dibawa pulang hingga kembali ke tanah air.