JEJAK CINTA DI KOTA NABI: Jamaah KBIHU AG Menyusuri Situs-Situs Bersejarah Madinah hingga Bi’ru Khatam yang Jarang Dikunjungi Jamaah

MADINAH – Liputan Hukum Indonesia.–

Suasana haru, khusyuk, dan penuh rasa syukur menyelimuti rangkaian kegiatan Mazarat (City Tour) Jamaah Haji KBIHU Al-Gratis (AG) pada Jumat (12/6/2026) di Kota Madinah Al-Munawwarah. Didampingi Tour Leader sekaligus pembimbing manasik, Mohamad Djasuli, para jamaah diajak menelusuri jejak perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat melalui kunjungan ke berbagai lokasi bersejarah yang menjadi saksi lahir dan berkembangnya peradaban Islam.

Perjalanan diawali dari Masjid Quba’, masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW setelah hijrah dari Makkah ke Madinah. Di masjid yang didirikan atas dasar takwa tersebut, para jamaah melaksanakan shalat sunnah dan mendengarkan kisah perjuangan Rasulullah SAW dalam membangun fondasi masyarakat Islam yang kokoh.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Masjid Qiblatain, lokasi bersejarah tempat turunnya perintah perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka’bah di Makkah. Di tempat ini, jamaah diajak merenungkan makna kepatuhan para sahabat yang langsung melaksanakan perintah Allah SWT tanpa keraguan sedikit pun.

Perjalanan berlanjut menuju kawasan Masjid Khandaq yang menjadi saksi perjuangan kaum muslimin mempertahankan Madinah dari kepungan pasukan Ahzab. Penjelasan sejarah yang disampaikan membuat jamaah seakan kembali menyaksikan bagaimana Rasulullah SAW bersama para sahabat menggali parit pertahanan dengan penuh kesabaran dan keyakinan kepada pertolongan Allah SWT.

Puncak perjalanan sejarah berlangsung saat rombongan tiba di kawasan Jabal Uhud. Di kaki gunung yang dicintai Rasulullah SAW tersebut, jamaah berziarah ke Makam Syuhada Uhud, tempat dimakamkannya sekitar 70 sahabat yang gugur dalam Perang Uhud, termasuk Sayyidina Hamzah bin Abdul Muththalib RA yang dikenal sebagai Singa Allah dan Singa Rasul-Nya.

Dengan gaya penyampaian yang hidup dan menyentuh, Mohamad Djasuli mengisahkan detik-detik Perang Uhud, pengorbanan para syuhada, hingga pelajaran besar dari Jabal Rumat yang menjadi bukti pentingnya ketaatan terhadap perintah Rasulullah SAW. Banyak jamaah tampak larut dalam suasana haru ketika mendengarkan kisah tersebut sambil memandang langsung lokasi-lokasi bersejarah yang selama ini hanya mereka baca dalam kitab-kitab sirah.

Namun ada satu lokasi yang menjadi perhatian khusus dalam perjalanan kali ini, yakni kunjungan ke **Bi’ru Khatam (Ares Well)**, sebuah situs bersejarah yang tidak banyak masuk dalam agenda ziarah jamaah haji maupun umrah pada umumnya.

Bi’ru Khatam atau yang juga dikenal dengan Sumur Ares merupakan tempat terjadinya salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, yaitu hilangnya cincin Rasulullah SAW yang kemudian digunakan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, Umar bin Khattab RA, dan Utsman bin Affan RA sebagai stempel resmi pemerintahan Islam. Menurut berbagai kitab sejarah, cincin tersebut terjatuh ke dalam sumur pada masa pemerintahan Khalifah Utsman RA dan tidak pernah ditemukan kembali meskipun telah dilakukan pencarian selama berhari-hari.

“Sebagian besar jamaah mengenal Quba’, Uhud atau Qiblatain. Namun Bi’ru Khatam memiliki nilai sejarah yang sangat penting dan tidak banyak rombongan yang menyempatkan diri berkunjung ke sini. Kami ingin jamaah tidak hanya beribadah, tetapi juga mengenal sejarah Islam secara lebih utuh dan mendalam,” jelas Mohamad Djasuli kepada jamaah.

Kunjungan ke Bi’ru Khatam menjadi pengalaman tersendiri bagi jamaah KBIHU AG karena dapat melihat langsung salah satu situs yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan kepemimpinan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin.

Rangkaian city tour kemudian ditutup dengan kunjungan ke kebun kurma di Madinah. Selain menikmati suasana perkebunan yang menjadi ciri khas kota Nabi, jamaah juga mendapatkan edukasi mengenai berbagai jenis kurma unggulan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Madinah sejak masa Rasulullah SAW.

Menurut Mohamad Djasuli, kegiatan Mazarat bukan sekadar wisata religi, melainkan sarana untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, para sahabat, serta memahami perjuangan generasi awal Islam yang telah mengorbankan segalanya demi tegaknya agama Allah.

Program pendampingan seperti inilah yang menjadi ciri khas KBIHU AG dalam membina jamaah haji maupun umrah. *Saat ini, untuk program umrah, KBIHU AG bekerja sama dengan Ventour Travel sebagai mitra penyelenggara perjalanan, sementara pembinaan manasik, edukasi sejarah, dan pendampingan ibadah dilakukan langsung oleh Mohamad Djasuli dan tim pembimbing berpengalaman*.

Bagi para jamaah, perjalanan menyusuri Quba’, Qiblatain, Khandaq, Uhud, Jabal Rumat hingga Bi’ru Khatam bukan sekadar kunjungan ke tempat-tempat bersejarah, melainkan perjalanan hati yang menghubungkan mereka dengan perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat. Sebuah pengalaman spiritual yang semakin menumbuhkan kerinduan untuk kembali ke Tanah Suci.

“Ketika berdiri di tempat-tempat yang pernah diinjak Rasulullah SAW dan para sahabat, kita merasakan bahwa sejarah Islam bukan sekadar cerita, tetapi kenyataan yang pernah terjadi. Semoga Allah memanggil kita kembali ke Tanah Suci bersama keluarga dan orang-orang yang kita cintai,” ungkap salah seorang jamaah dengan mata berkaca-kaca.

Leave a Comment