Arafah, Makkah Al-Mukarramah – Liputan Hukum Indonesia —
Di antara lokasi yang paling menyentuh hati para jamaah haji adalah Jabal Rahmah, sebuah bukit yang berdiri megah di Padang Arafah dan menjadi simbol kasih sayang, pertaubatan, serta harapan bagi umat manusia.
Bagi jamaah KBIHU AG, kunjungan dan pembelajaran di Jabal Rahmah bukan sekadar bagian dari program mazarat, melainkan momentum penting untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta menata kembali kehidupan keluarga dan hubungan sosial dengan sesama.
Dalam pembekalan yang diberikan di kawasan Arafah, jamaah diajak memahami bahwa makna terbesar Jabal Rahmah tidak terletak pada bukit, batu, ataupun monumennya, melainkan pada pesan spiritual yang dikandungnya.
Meskipun kisah pertemuan Nabi Adam AS dan Sayyidah Hawa di Jabal Rahmah tidak memiliki landasan hadis yang kuat, para ulama menjelaskan bahwa nilai rahmah (kasih sayang) yang melekat pada nama tempat tersebut tetap menjadi pelajaran berharga yang sangat relevan bagi kehidupan seorang Muslim.
Rahmah: Pondasi Kehidupan Keluarga
Pembimbing KBIHU AG, Assoc. Prof. M. Djasuli, mengingatkan bahwa rahmah merupakan salah satu nilai utama yang Allah SWT jadikan sebagai fondasi kehidupan rumah tangga.
Allah SWT berfirman:
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Karena itu, setelah berdiri di Jabal Rahmah, jamaah diharapkan tidak hanya membawa pulang foto dan kenangan, tetapi juga semangat untuk membangun keluarga yang dipenuhi cinta, kasih sayang, saling memaafkan, dan saling mendukung dalam kebaikan.
Menurut pembimbing, tidak sedikit konflik rumah tangga yang berawal dari memudarnya nilai rahmah dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar Meminta Maaf dan Memaafkan
Salah satu pelajaran yang paling ditekankan kepada jamaah adalah pentingnya memperbaiki hubungan dengan pasangan, anak-anak, orang tua, saudara, dan tetangga.
Jamaah diajak merenungkan bahwa selama hidup mungkin ada ucapan yang menyakiti, sikap yang mengecewakan, atau hak-hak keluarga yang belum ditunaikan dengan sempurna.
Oleh karena itu, perjalanan haji harus menjadi momentum untuk membuka lembaran baru kehidupan.
“Jika Allah Yang Maha Agung berkenan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya, maka manusia pun seharusnya belajar untuk saling memaafkan.”
Pesan tersebut menjadi salah satu inti pengajian lapangan yang disampaikan kepada jamaah KBIHU AG di Arafah.
Menjadi Ayah dan Ibu yang Lebih Baik
Banyak jamaah yang mengaku terharu ketika diajak merenungkan kembali peran mereka sebagai orang tua.
Di Jabal Rahmah, jamaah diingatkan bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan nafkah materi, tetapi juga teladan, perhatian, kasih sayang, doa, serta pendidikan agama yang baik.
Haji yang mabrur harus tercermin dalam perubahan sikap di lingkungan keluarga, antara lain:
Lebih sabar terhadap pasangan.
Lebih lembut kepada anak-anak.
Lebih menghormati orang tua.
Lebih peduli kepada keluarga besar.
Lebih rajin menghidupkan ibadah di dalam rumah.
KBIHU AG menegaskan bahwa kemabruran haji pertama kali harus terlihat dalam kehidupan keluarga sebelum tampak di tengah masyarakat.
Menyatukan Kembali Keluarga yang Retak
Bagi sebagian jamaah, Jabal Rahmah menjadi tempat lahirnya tekad untuk memperbaiki hubungan yang selama ini renggang.
Ada yang berkomitmen kembali menjalin silaturahmi dengan saudara yang lama tidak bertegur sapa. Ada yang bertekad lebih memperhatikan pasangan. Ada pula yang berniat memperbaiki komunikasi dengan anak-anak dan cucu-cucunya.
Menurut pembimbing KBIHU AG, salah satu tanda diterimanya pelajaran haji adalah tumbuhnya keinginan kuat untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Rahmah kepada Sesama, Bukan Hanya kepada Keluarga
Nilai rahmah yang dipelajari di Jabal Rahmah tidak berhenti dalam lingkup keluarga.
Jamaah juga diajak memperluas kasih sayang kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah penduduk bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh Penghuni langit.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Karena itu, jamaah diharapkan pulang sebagai pribadi yang:
Lebih peduli kepada tetangga.
Lebih ringan membantu sesama.
Lebih aktif dalam kegiatan sosial.
Lebih menjaga persatuan umat.
Lebih menebarkan kedamaian di lingkungan masing-masing.
Jabal Rahmah dan Momentum Muhasabah Kehidupan
Di hadapan hamparan Padang Arafah yang luas, jamaah KBIHU AG diajak merenungkan perjalanan hidup mereka.
Sebagian telah memasuki usia senja. Sebagian lainnya telah melewati berbagai fase kehidupan, dari masa sulit hingga masa lapang.
Seluruh pengalaman tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Setiap orang membutuhkan rahmat Allah SWT dan kasih sayang sesama manusia.
Karena itulah Jabal Rahmah dipahami bukan hanya sebagai lokasi bersejarah, tetapi juga sebagai simbol bahwa kehidupan yang baik hanya dapat dibangun dengan cinta, kasih sayang, pengampunan, dan kebersamaan.
KBIHU AG: Membawa Pulang Nilai, Bukan Sekadar Oleh-Oleh
Dalam evaluasi akhir program haji, KBIHU AG kembali menegaskan bahwa tujuan utama pembimbingan bukan hanya membantu jamaah menyelesaikan rukun dan wajib haji.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan jamaah membawa pulang nilai-nilai luhur yang dipelajari selama berada di Tanah Suci.
Jika dari Jabal Rahmah jamaah pulang menjadi suami yang lebih baik, istri yang lebih sabar, orang tua yang lebih bijaksana, anak yang lebih berbakti, serta anggota masyarakat yang lebih peduli, maka itulah salah satu buah kemabruran haji yang sesungguhnya.
Sebagaimana disampaikan dalam penutupan pengajian: