Makkah Al-Mukarramah – Liputan Hukum Indonesia
Suasana haru, bahagia, dan penuh rasa syukur menyelimuti Mushalla Hotel Shaza Asil 218, Makkah Al-Mukarramah, saat sebanyak 161 jamaah KBIHU AG mengikuti prosesi penganugerahan surban kuning dan kerudung hitam sebagai simbol telah selesainya seluruh rangkaian rukun dan kewajiban ibadah haji yang mereka jalani di Tanah Suci.
Prosesi yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin langsung oleh pembimbing haji KBIHU AG, Assoc. Prof. Mohamad Djasuli, serta disaksikan para ketua rombongan, ketua regu, dan seluruh jamaah yang hadir.
Bagi jamaah KBIHU AG, prosesi ini bukan sekadar seremoni penutup, melainkan ungkapan rasa syukur atas karunia Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, kesehatan, dan kemudahan sehingga seluruh tahapan ibadah haji dapat diselesaikan dengan baik.
Simbol Syukur atas Sempurnanya Rangkaian Ibadah Haji
Dalam sambutannya, pembimbing menjelaskan bahwa penganugerahan surban kuning bagi jamaah laki-laki dan kerudung hitam bagi jamaah perempuan merupakan simbol kebersamaan, penghormatan, serta rasa syukur atas selesainya seluruh proses ibadah haji.
Seluruh jamaah yang mengikuti prosesi tersebut telah menunaikan berbagai tahapan ibadah, mulai dari ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, tahallul, hingga thawaf ifadlah beserta seluruh kewajiban lainnya.
Momentum tersebut sekaligus menjadi saat yang tepat untuk mengenang perjuangan panjang sejak keberangkatan dari tanah air hingga memasuki penghujung masa tinggal di Kota Suci Makkah.
Surban Kuning dan Kerudung Hitam Sarat Makna
Dalam tradisi pembinaan KBIHU AG, warna yang dipilih bukan sekadar unsur estetika, melainkan mengandung pesan moral dan spiritual yang mendalam.
Surban kuning diberikan sebagai simbol cahaya ilmu, optimisme, kebijaksanaan, dan semangat untuk terus menebarkan manfaat setelah kembali ke tengah masyarakat.
Sementara itu, kerudung hitam diberikan sebagai simbol keteguhan, kesederhanaan, kehormatan, serta pengingat agar jamaah senantiasa menjaga kemuliaan akhlak yang telah ditempa selama berada di Tanah Suci.
Dalam tausiyahnya, pembimbing menjelaskan bahwa warna hitam memiliki kedudukan tersendiri dalam sejarah Islam. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengenakan imamah (sorban) berwarna hitam pada kesempatan tertentu. Namun demikian, penyebutan warna hitam sebagai warna yang disukai malaikat lebih tepat dipahami sebagai simbol penghormatan dalam tradisi keislaman dan bukan sebagai ketetapan akidah yang memiliki dalil shahih secara khusus.
Karena itu, surban dan kerudung yang diberikan bukanlah simbol status keagamaan tertentu, melainkan pengingat akan amanah besar yang harus dijaga oleh setiap jamaah haji setelah kembali ke tanah air.
“Hari Ini Bukan Akhir, Melainkan Awal Pengabdian”
Dalam pesannya kepada seluruh jamaah, Assoc. Prof. Mohamad Djasuli menegaskan bahwa keberhasilan menyelesaikan ibadah haji bukanlah garis akhir perjalanan seorang Muslim.
“Hari ini bukan akhir dari perjalanan ibadah, melainkan awal dari pengabdian yang lebih besar. Surban dan kerudung yang dikenakan bukan tanda kemuliaan yang harus dibanggakan, tetapi amanah agar kita menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelum berangkat haji.”
Beliau juga mengingatkan bahwa tanda kemabruran haji tidak terletak pada atribut yang dikenakan, melainkan pada perubahan sikap, akhlak, dan kualitas ibadah setelah kembali ke lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Tasyakkuran Bersama di Hotel Shaza Asil
Setelah prosesi penganugerahan selesai, seluruh jamaah melanjutkan kegiatan dengan tasyakkuran bersama yang diselenggarakan di lantai 2 Hotel Shaza Asil.
Acara berlangsung dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat rasa syukur. Para jamaah saling berbagi pengalaman selama menjalankan ibadah haji serta mengenang berbagai momen spiritual yang mereka alami di Masjidil Haram, Arafah, Muzdalifah, Mina, Jamarat, Jabal Rahmah, Jabal Nur, Hudaibiyah, dan Ji’ranah.
Doa bersama dipanjatkan agar seluruh amal ibadah yang telah dilaksanakan diterima oleh Allah SWT serta seluruh jamaah diberikan keselamatan, kesehatan, dan kelancaran dalam perjalanan kembali ke Indonesia.
Tak sedikit jamaah yang meneteskan air mata ketika mengenang perjuangan selama menjalankan ibadah haji serta kebersamaan yang telah terjalin selama berada di Tanah Suci.
Menutup Prosesi, Menjaga Kemabruran
Bagi KBIHU AG, prosesi penganugerahan surban kuning dan kerudung hitam bukanlah seremoni penutup semata. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa para jamaah kini memasuki fase baru dalam kehidupan mereka.
Jika selama di Makkah mereka belajar tentang kesabaran, keikhlasan, persaudaraan, dan penghambaan kepada Allah SWT, maka setelah kembali ke tanah air seluruh nilai tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Karena itulah KBIHU AG terus menanamkan pesan bahwa haji mabrur bukan hanya dikenang dalam album foto atau cerita perjalanan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, dalam keluarga, masyarakat, maupun lingkungan tempat para jamaah mengabdi.
Tagline
“Yang dibawa pulang dari Tanah Suci bukan sekadar surban dan kerudung, melainkan amanah untuk menjaga kemabruran, menebarkan rahmat, dan menjadi teladan di tengah masyarakat.”
Naskah ini sudah siap digunakan untuk artikel majalah, portal berita, maupun layout halaman utama edisi haji.